|
JEJAK ISLAM DI MENGGALA, KABUPATEN TULANGBAWANG,
PROVINSI LAMPUNG
Untuk membuktikan sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Lampung maka diperlukan bukti-bukti yang valid tentang islamisasi di Tulangbwang. Ini dapat dilihat beberapa tinggalan arkeologi yang kini dapat disaksikan di Tulangbawang, khususnya di Menggala. Tinggalan arkeologi yang dapat membuktikan bahwa Islam pernah berkembang di Menggala antara lain masjid, makam, naskah-naskah kuna, dan lain-lain.
1. Masjid
Masjid kuna yang terdapat di Menggala adalah masjid masjid ini dibangun pada tahun 1830 Masehi bertepatan dengan 1250 Hijriah, kemudian masjid ini diperbaharui bubughnya (atapnya) pada tahun 1985 Masehi berte[atan dengan tahun 1332 Hijriah. Menara agugnya diperbaharui pada tahun 1913 bertepatan dengan 1332 Hijriah.
Ukuran (lihat di Pak jurugambar)
2. Makam
Makam-makam kuna yang ditemukan di Menggala antara lain makam Menak Sengaji, Kompleks Pemakaman Tokoh Bakung Udik Sungai Bakung, Kompleks Makam Belakang Masjid, Makam Cina, Makam Menak Ngegulung Sakti.
Makam Menak Sengaji
Menak Sengaji disebut juga Paduko Rajo, wafat pada tahun 1650 Masehi. Informasi itu didapat dari papan yang dibuat dari semen yang diletakkan di dekat pusaranya. Ia dianggap sebagai orang yang berjuang untuk Menggala. Makamnya berada di atas bukit dekat jurang, bagian utara kota Menggala. Di dekat lokasi makam ini dibangun pesanggrahan masa Belanda serta Rumah Sakit. Bekas pesanggarahan itu selanjutnya dipakai untuk kantor Camat Menggala sebelum ditinggalkan kembali untuk menempatui kantor baru di Kota Menggala.
Makam Menak Sengaji berada dalam cungkup baru. Di samping makam Menak Sengaji dalam kompleks pemakaman itu dimakamkan pula istri dan kerabat dekatnya. Nisan makamnya dari batu pasir dengan bentuk bulat bubutan berukuran tinggi 38 cm., dan diameternya 13,5 cm.
Kompleks Makam Sungai Bakung
Dalam kompleks pemakaman yang luasnya lebih dari 2 hr dimakamkan beberapa tokoh utama Desa Sungai Bakung tempo dulu. Paling tidak ada empat tokoh utama yang dimakamkan, yaitu Dewa Penatih, Dewa Cerucuh, Dewa Pengantin, dan Dewa Nataraja.
Makam Dewa Penganten
Nisan makamanya terdapat di dalam cungkup. Di samping makam Dewa Pengantin ang terletak di bagian barat, di dalam cungkup itu juga dimakamkan istrinya. Nisan makam keduanya dibuat dari kayu dengan bentuk gada dan pipih. Nisan makam dengan bentuk gada segi delapan ini biasa digunakan oleh masyarakat Bugis atau Melayu. Masa penggunaannya sekitar abad 18 – 19 M.
Makam Dewa Penatih
Makam Dewa Penatih dipagar dengan tembok, letaknya di sebelah selatan Makam Dewa Pengantin. Terdapat banyak makam di dalam pagar ini, di antaranya yang paling barat adalah makam Dewa Penatih. Nisan makamya ada dua, nisan kepala dan nisan kaki. Kedua nisan makam itu dibuat dari bahan batu pasir dengan bentuk gada bubutan.
Makam Dewa Cerucuh berada di tengah-tengah kompleks pemkaman. Dalam lokasi pemakamnnya dimakamkan pula istrinya yang berada di sebelah timurnya. Makam Dewa Penatih ditandai dengan nisan batu tanpa dientuk, begitu pula nisan makam istrinya. Apabila belum hafal dan mengetahui persis lokasinya maka seseorang yang sengaja mencari makam ini tidak akan bisa menemukannya.
Makam Dewa Pengantin berada di dalam cungkup. Di dalam cungkup itu dimakamkan dua tokoh, pertama Dewa Pengantin, dan yang kedua istrinya. Nisan makam keduanya menggunakan bahan kayu dengan bentuk segi delapan. Pada nisan makam Dewa Pengantin terdapat tulisan Lampung yang dapat dibaca “Dewa Penganten”.
Makam Dewa Cerucuh
Makam Dewa Cerucuh terleak di bagian barat daya dari makam Dewa Pengantin. Makamnya dipagar dengan tembok, dan di dalam tembok dimakamkan beberapa orang. Di antara yang dimakamkan itu menurut informasi pendiuduk setempat adalah istrinya. Nisan makamnya dari batu dengan bentuk gada bergradasi. Tampaknya ini bukan nisan makam aslinya.
Makam Dewa Nataraja
Makam ini terletak paling timur di antara nisan-nisan para dewa. Lokasinya juga terpisah dari ketiga makam tiga tokoh yang lain. Makam ini sekarang dicungkup, namun kurang baik pemeliharaannya. Nisan makamnya dari batu yang sama sekli baru. Dalam cungkup makam ini terda[pat dua makam, makam Dewa Natara dan makam istrinya.
Kompleks Makam Ngegulung Sakti.
Makam ini berada di wilayah Desa Ujung Gunung Hilir, Kecamatan Menggala. Makam tokoh ini tidak ditandai denga nisan, melainkan jirat yang menyerupai selasar dengan dihampari pasir putih. Di dekat makam terletak di Deasa Pengantin masih menggunakan kayu dengan bentuk segi delapan.
3. Naskah-naskah Kuna
Naskah-naskah kuna dapat ditemui di rumah H. Muzani, mantan Kepala KUA, Kecamatan Menggala. Alamat rumah ini adalah Jl Straat I, Menggala. Naskah-naskah yang disimpannya sebagian besar sudah dicetak, namun masa pencetakannya di luar negeri.
a. Naskah Sair as-Salikin
Naskah ini berukuran 20 x 29 cm., tebalnya 4 cm. Naskah disampul dengan karton berwarna cioklat, naskah terdiri atas dua jilid, jilid pertama berisi 236 halaman dan jilid kedua terdiri atas 236 halaman juga. Kedua nnaskah ini masih utuh, lengkap dengan judulnya: INILAH KITAB YANG PERTAMA DARIPADA YANG BERNAMA SAIR AS-SALIKIN, THARIQAT AS-SADAT ASH-SHUFIYYAH.
Akhir daripada teks naskah Sair as-Salikin terdapat pada pada halaman 236 dengan tulisannya: Bab kesembilan belas pada menyatakan kelemahannya menjadi tamat.
Kolofonnya dapat dibaca: “telah selesailah daripada mengecap juz yang kedua dari kitab Sair as-Salikin dan akan mengiringinya juz yang ketiga. Selesai menerjemahkan di Taif pada hari Sabtu, 19 Ramadhan1190.”
Naskah ini berisi tentang tasawuf sebuah kitab yang diterjemahkan oleh Syeikh Abd as-Samad al-Palimbani dari kitab yang ditulis oleh Imam Al-Gazali Bidayat al-Hoidayat. Abd as-Samad Al-Palimbani adalah. seorang ulama Palembang yang sempat bermukim lama di Makkah. Kemudian ia wafat di medan laga sewaktu Aceh diserang oleh Raja Thailan.
b. Kitab Hidayatullah
Kitan ini berukuran 20 x 16 cm, tebalnya 3 cm. Naskah ini terdiri atas lima jilid. Jilid yang pertama memuat 80 folio (lembar), jilid kedua 160 lembar, jilid ketiga 240 lembar, jilid keempat 400 lembar, dan jilid kelima 400 lembar.
Naskah dicetak dengan cara stensi pada tahun 1954. naskah berisi tengtang sejarah perkembangan Islam yang ditulis oleh Muhammad Ali Al-Hamidi.
c. Naskah Ruh al-Mubin
Naskah ini masih utuh, dicetak stensil pada tahun 1954 dan ditulis oleh Muhammad Ali Al-Hamidi. Naskah berukuran 22 x 17 cm dan tebal 1 cm.
d. Kitab Nuzul al-Quran
Naskah berukuran 20 x 16 cm, dan tebal 3 mm. Naskah terdiri atas 20 halaman ditulis oleh Mjuhammad Ali al-Hamidi. Naskahnya dicetak dengan stensilan dan di Jatinegara pada tanggal 18 Ramadlan tahun 1369 bertepatan pada tanggal 4 Juli 1950.
e. Kitab Qishash al-Anbiya
Kitab ini kondisinya masih utuh, dan bersampul. Ukuran naskah 25 x 18 cm, dan tebal 1 cm. Naskah ini dicetak, dan yang ada merupakan naskah jilid I. Tentang naskah jilid berapa saja tidak diketahui yang di simpan di rumah Bapak H. Muzani ini tidak diketahui, namun yang jelas yang diperlihatkan kepada tim hanya jilid I.
Naskah ini merupakan terjermahan dari bahasa Arab yke dalam bahasa Melayu. Namun tulisannya masih menggunakan tulisan Arab. Naskah disempurnakan oleh al-Haj Azhari al=Khalidi Rahimah Allah.
Naskah dimulai dengan basmalah selanjutnya ditulisi:
“ini bermula adapaun bahwa injilah tafsir daripada Muhammad ibn al-Hasan dan ini mendengar daripada Ishak ibn Ibrhim an-Nisabury, Syam.”
Kolofonnya menunjukkan angka tahun 1348. Lengkapnya: “wa kan tama thab’ih fi syahr jumad al-awwal min sanat 1348 hijriyyaah, ‘ala shahibiha afdlal as-salat wa azaka at-tahiyyat, amin”.
Naskah ini berisi tenang kisah para nabi. Di antara kisahnya terdapat pada halaman 149 yang menceritakan kisah nabi Musa As.
f. Naskah Godaan Syetan
Naskah ini berukuran 21 x 16 cm, dan tebalnya 2 cm. Naskah masih utuh dan masih bersampul. Naskah membahas bermacam-macam cara godaan syetan dan tipuan syaitan terhadapo manusia dripada segala tingkatannya berdasarkan al-Quran dan pendapat ulama. Naskah ditulis oleh Muhammad Ali al-Hamidi
Naskah ditulis dengan menggunalkan tulisan Arab dan dicetak dengan stensilan. Angka tahun pencetakannya menunjukkan awal Muhamrram 1386 Hijrah bertepatan dengan 22 April 1966, di Matraman, Jatinegara.
g. Naskah Kunci Khutbah dan Pidato
Naskah masih utuh, mempunyai sampul.berukuran 23 x 16 cm, dan tebal 3 cm. Naskah meripakan terjemahan dan diberi penerangan oleh Muhammad Ali al-Haimid dari kiab Ma’na al-Khutbah wa al-Wa;dlo.
Naskah dicetak dengan litografi (cetak batu) jumlah halaman mencapai 512 halaman. Tulisan pada naskah dimulai pada f.3r:
“pendahuluan
Bismillah ar-rahman ar-rahim, al-hamd lillah al-ladzi biyadih qulub ‘ibadih yashrifuha kama yasya` wa shall Allah ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alih wa ashhabih al-ulama wa as-salihin.
Naskah diakhir pada f 512. V dengan tulisan:
Menulis dan menyalin kitab ini pada Isnain siang jam 10 tanggal 28 Rajab 1377, atau 17 Februari 1954. Maka memohon Allah terima ilmuku ini dan diampunkannya kesalahan ibu bapaui, kaum muslimin dan penerbit ini amin. Wa shall Allah 'ala sayyidina muhammad wa alih wa shahbih wa al-hamd lillah rabb al-‘alamin.
h. Naskah Majmuk
Naskah ini merupakan kumpulan beberapa karangan u7lama Aceh yang termasyhur. Nasakah masih utuh, disampul, namun lmbaran-l4mbarannya tidak dijilid, melainkan terpisah-pisah layaknya kitab kuning. Naskah ini dicetak dalam tulisan Arab dengan bahasa Melayu, namun sebagian berbahasaab.
Secara lengkap judul naskah ini adaah “ini Majmu’ Beberapa Karangan Beberapa Ulama Aceh yaNG Dahuli-dahulu yang a’lam. Telah Doihimpunkan Sekaliannya oleh Hadrat al-Mukarram as-Syeikh Ismail ibn Abd a-Muthalib al-Acsyhiy, hafadlah Allah Taaala dan dinamakan dia Jam’ al-Jawami’ l- al-Mushaanifat, nafa’ Allah biha wa al-Muslimin Amin.
Di antara isi naskahnya adalah “faraidl al-Qur’an” yang membahas tentang harta warisan dalam Islam. Naskah ini aslinya ditulis oleh al-Faqir ila Allah Ta’ala al-Ghaniyy Mujhammad Zain ibn al-Faqih Jalaluddin al-Ascyhiy
i. Naskah Lubab al-Hadits
Naskash ini diambil dari naskah yang berjudl Syifa` al- karya Walieikh Muuhy Addin Amadana Allahh Bi mmaddih Amin ya Rabb al-Alamin. Naskah memuat beberapa bab sampai bab ke 40. Bab pertama membicarakan fadlilah al-ilm wa al-ulama dan terakhir tentang yang tentang fadloilah as-sabar.Qulub. naskah memuat 44 lembar, namun pada halaman 38 sudah selesai. Dikatakan belum tama.
Naskah ditulis dalam bahwa Arab dan Melayu nbbahasa Melayu digunakan dalam hal pembahasan hadits-hadits nabi. Tinta yang digunakan berwarna hitam. Di dalam naskah terdapat iuluminasi dengan warna hitam saja di awal halaman.
Naskah berukuranpias 27 x 19,5 lebar 0,5. Setiap halaman memuat 32 baris.
j. Akhir naskah ditulis pada halaman 39 dengan bacaan, “tamm hadza al-kitab al-musamma bi hadits al-lubbab fi yaum al-jumah fi tsalits dzi al-hijjah. Amat kitab ini yang bernama depan Hadits Lubbab pada hari Jumat 3 hari pada hari yang ketiga pada bulan Dzi al-hijjah, dalam negeri Makkah al-Mustyarrafat wa as-salam fatamm. Tahun di awal kitab 1140 H., bulan Muharram pada zaman Paduka Seri Sultan yang Agung lagi Maha Tinggi derajatnya, yaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan berdaulat Dzill Allah fi al-a’lamadzamah Allah daulatah Amin. Maka tatkala itu meminta kepada Pangeran yang hina Khadim al-Ulama Haji Jalaluddin, anak Syeikh yang arif billah, Syeikh Jamakluddin anak Ishak. Baginda khatibh sallamah Allah taala daripada sahabat raja itu yang takut akan Allah Taala. Bahwa aku suratkan bagian suatu risalah yang bab empa. Maka aku hadiahkan Hidayah al-awam pada menyatakan perintah agama.
Naskah berukuran 27,5 x 19 cm. Ruang tulis berukuran 22 x 12,5 cm. Tebal naskah 0,5 cm. Sementara setiap halamannya berisi 32 baris. Naskah dicap dengan litografi.
Akhir daripada naskah ini dapat di dapat dibaca,
Al-hamd lillah ‘ala tamam kamalih wa ash-shalat wa as-salam ala sayyid anbiya` wa ‘ala alih wa sahbih wa qarabatih, amm ba’d. Maka telah sempurnalah mengecapkan ini kitab “kitab mustathab yang terkandung di dalamnya beberapa nafa`is lagi ajaib dan ang demikian itu panya tiga puluh Syawal, tahun hijrah seribu tiga ratus dua puluh 1320 dan adalah capkan dia serta hadirkan tashhihnya adanya. Wa ssall Allah wa sallam ‘ala sayyidna Muhammad wa alih wa shahbih ajmain.
k. Risalah Fadlilah
Naskah berukuran 27 x28,5 cm, tebal 0,3 cm. Ruang tulis 23 x 12,5 cm. Dalam setipa halaman ditulisi dengan 34 baris. Teks masih utruh, ada permulaan dan ada akhiran. Teks ditulis oleh al-Fadlil al-Kamil asy-Syeikh Utsman ibn Syihabuddin Muttaqiyan nnafaana Allah biha.
l. Naskah al-Quran
Di dalam rumah adat Lampung yang beralamat di Straat I, Kibang, Menggala disimpan berbagai macam tinggalan masa lalu seperti tombak, mangkuk, mobiler, dubang, dan sebagainaya. Di samping itu rumah yang dijadikan sebagai kantor Lembaga Sosia Masyarakat Lampung ini menyimpan a-Quran tulis tangan. Naskah itu berukuran 32 x 20 cm., dan tebal 5,5 cm.
Naskah dibuat dari bahan kertas Eropa yang di dalamnya terdapat watermark berupa gambar lingkaran silindris dengan salib dan mahkota di atasna. Di dalam lingkaran terdapat gambar orang memegang tongkat. Di samping itu waterk yang lain berupa tulisan LUMNDUN 1842. Ini meunjukkan bahwa kertas diperoduksi oleh perusahaan lumndun pada tahun 1842.
Naskah tidak utuh lagi, namun masih tetap memperlihatkan jilid ang kuat. Awal naskah dapat dibaca, “surat min mitslih wa ad’u syuhadaakum min dun Allah in kuntum shadiqin. Dan bagian akhir naskah berupa tulisan. “...rat 12 ... inilah dia punya qur’an inilah ... ng Tulangbawang, Kibang, J l’qub orang Banten.”
m. Daqaiq al-akhbar fi dzikr al-jannat wa an-nar
Kitab ini dikarang oleh ulama dari Daik – Lingga, namanya al-alim al-fadlil wa as-syeikh ahmad ibn Muhammad Yunus Lingga, semoga Allah memnberi manfaat Allah memasukkannya kedalam sueganya. Naskah dicetak di Makkah pada tahun 1320, sebagaimana yang tercantum di dalam naskah, “telah selesai mengecap kitab yang mustathab ang terhimpun padanya ajaib al-ajaib yaitu bicaraan an-nur al-hamidiyah dan ahwal yaum al-qiyamat yang dinamakan Daqaiq al-akhbar wa dzikr al-jannat wa an-nar. Dan telah sempurnana pada tengah bulan Jumadilawal pada sanat hijrat seribu trigaratus dua puluh. Dan yang demikian itu pada masa amirul mukminin wa khalifat sayyid al-mursalin khadim al-haramain asy-Syarifain, maulana as-sultan al-ghaz khallad Allah mulkah bi al-adl wa al-ihsan wa ayyad syakanah mada az-zaman.
n. Askah silsilah Menak Rajawali
Naskah ini disimpan di rumah Bapak Effendi Ahmad Zakaria, mantan Lurah di Menggala dari 1991 - 2002. Naskah terdiri atas 2 lembar berukuran 43 x 33 cm. Naskah berupa faxilile dan berupa naskah hasil ketikan. Kolofon menunjukkan “Kepada termaktub di Menggala, tanggal sepuluh April 1900 tiga puluh. Ang menulis Ien over staff UPS de ge d, Gezaghebourer van Menggala (w.g.) Admiral De Pasirah Marga Socay Oempoe (w.g. Pn. Sampoerna Djaja.”
o.
Islam Islam yang datang ke Nusantara adalah dikatakan Masyarakat muslim di Nusantara tergolong tinggalan masa pengaruh Islam antara
Rickles, 2008
Hal 160
Penemuan emas pada tahun 1730-an di wilayah penghasil lada, Lampung yang penguasaan atasnya diperebutkan oleh Palembang dan Banten, mengundang orang-orang Bugis, Minangkabau dan kaum petualang lain untuk menciptakan kekacauan lebih jauh di sana.
237
Mereka juga mulai mengancam perbatasan-perbatasan Batavia, dan memaksa VOC untuk meninggalkan posnya yang terletak di Tulang Bawang, Lampung. VOC melihat perlunya mengambil langkah-langkah yang lebih hebat apabila tidak ingin menderita kekalahan di Mataram dan banten.
*Penulis adalah Peneliti Arkeologi, aktif di Yayasan Pelita Budaya, Palembang, tinggal di Jakarta. |