Business Day

Pembelajar Aneka Value dalam Satu Kegiatan

Lorong sekolah yang biasanya lengang, kali ini penuh dengan meja dagangan yang semua penjualnya adalah para siswa kelas tiga SD. Aneka jajanan kecil, mainan anak-anak, kotak pinsil, dll. tertata di atas meja Mereka  begitu bersemangat menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang melewati lorong itu.

business-day-1 business-day-2

“Pak, ayo beli dong, Pak”, ujar seorang anak wanita kepada saya begitu saya tiba di lorong itu. Belakangan saya tahu nama anak ini adalah Jehan.

Saya tersenyum dan memuji barang dagangannya yang tertata rapi.

“Ini acara apa si, Nak, kok pada jualan begini?” tanya saya.

“Ini acara bisnis day, Pak”. Jawab anak itu.

“Ooo..ini apa yang kamu jual ini?”

“Ini, puding coklat oreo.” Jawabnya. Dari sorot matanya saya melihat sebuah harapan, bahwa saya saya mau membeli dagangannya.

“Ayo dong, Pak beli, cuma lima ribu kok!” Pintanya.

Tapi saya belum membelinya, saya lanjut bertanya. “Siapa yang buat ini, Nak? Kamu?”

“Bukan, ini bunda yang bikin” Jawabnya.

“Kamu senang jualan seperti ini?

Seneng”, jawabnya singkat.

“Apa yang membuat kamu senang?”

“Ya… seneng aja.”  Jawabnya. Dan lagi-lagi ia meminta saya untuk membeli dagangannya, “ Ayo dong, Pak beli.”

business-day-3 business-day-4

Akhirnya saya membeli  puding coklat oreo itu satu cup. Setelah saya membayar, dia menanyakan nama saya dan tentu saya jawab. Lalu ia mengucapkan terima kasih dan menyebut nama saya, “Terima kasih ya, Pak Iwan”. Tuturnya sambil senyum. Matanya nampak berbinar menunjukkan kesenanngannya karena dagangannya laku. Lalu saya berjalan meninggalkan stand itu. Baru beberapa langkah siswa yang lain menawarkan juga dagangannya. Seperti yang saya lakukan kepada Jehan, saya menanyakan beberapa hal. Apakah mereka senang dengan kegiatan itu, dari mana barang dagangan itu, siapa yang mengemas, dll. Sampai di ujung lorong berkali kali saya menanyakan hal yang hampir sama kepada mereka. Semua menjawab senang dengan kegiatan itu, sekolah jadi tidak membosankan kata mereka dan mereka bisa belajar jualan. Ada juga yang menyadari, ternyata jualan itu susah, gak semua orang mau beli, jadi harus rajin nawarin katanya.

Dari ujung lorong saya memperhatikan anak-anak yang sedang berjualan. Di situ saya melihat beberapa nilai dari kegiatan itu. Dengan kegiatan itu anak-anak belajar untuk berani berkomunikasi kepada orang lain (yang bahkan mereka tak kenal sama sekali dengan orang itu), belajar bersabar, belajar tawakkal saat dagangannya tidak laku, belajar mandiri, belajar berusaha, dan belajar berani. (iwn 29/04/15/)

Sharing is Caring:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published.