Berapa Gaji Kamu, Sehingga Panggilan Allah Kamu Lalaikan

 Memulai aktivitas alias bekerja di pagi hari sampai dengan sore hari adalah rutinitas harian, yang semua orang juga melakukannya.

Berapa Gaji Kamu, Sehingga Panggilan Allah Kamu Lalaikan

Terkadang mengawalinya dengan penuh semangat, tapi terkadang pula malas-malasan, apalagi jika ada sesuatu yang kurang berkenan dalam pikiran kita, rasanya mau bangun dari tempat tidur sudah tidak berdaya.

Kadang jadi berpikir, untuk apasih kita bekerja?
  • Untuk keluarga sebagai kepala rumah tangga. Iya, itu memang sudah menjadi kewajiban.
  • Untuk impian, agar kelak dengan uang yang banyak bisa membawa kedua orang tua menunaikan ibadah haji. Itu memang cita-cita dari dulu sebelum bekerja.
  • Untuk membeli rumah, mobil, jalan-jalan. Nyatanya sampai sekarang juga belum terwujud.
Lalu untuk apa lagi?

Semakin kita mencari jawaban untuk siapa kita bekerja, maka semakin banyak jawaban yang akan kita temukan. Dari sekian banyaknya jawaban, terkadang kita pesimis jika tidak sabar melihat kenyataan yang ada.

Namun pada akhirnya ada satu jawaban yang selalu membuat kita optimis, yang merangkum semua jawaban-jawaban yang ada. Yakni saya bekerja untuk Allah.

Apa ia kita bekerja untuk Allah?
  • Sudahkah pekerjaan kita sesuai dengan syari’atNya? Ia, kita seorang guru, guru itu pekerjaan mulia
  • Sudahkan kewajiban yang Ia perintahkan kita laksanakan? Ia, kita sholat 5 waktu, puasa, zakat, dll.
  • Sudahkah laranganNya kita tinggalkan? Ia, meskipun ada saja yang masih dilanggar
  • Sudahkah panggilan Allah lebih kita utamakan dari pada panggilan atasan, rekan, pekerjaan, keluarga?

Terus terang, ini pertanyaan belum kita lakukan, karena terkadang kita lebih mementingkan atasan, pekerjaan, rekan dan keluarga dibandingkan dengan panggilan Allah. Dan pada akhirnya kita mencari pembenaran sendiri atas kelalaian yang kita lakukan.

Pada saat rapat dikantor, atau ditempat pekerjaan lainnya, adzan dikumandangkan, muncul gejolak didalam hati kita, antara meninggalkan rapat kemudian bergegas memenuhi panggilan Allah atau meneruskan ikut rapat dengan alasan nanti saja sholatnya.

Ketika mau meninggalkan rapat, ada rasa tidak nyaman. Entah itu karena ada atasan, entah itu kepikirian peraturan, sistem, dan apalah namanya.

Tapi disisi lain, ingin juga mendapatkan keutamaan sholat berjama’ah yang lebih baik dari pada sholat sendirian dengan nilai 27 derajat. Nabi kita yang mulia juga bersabda: barang siapa yang melaksanakan sholat berjama’ah dan tidak pernah ketinggalan takbir pertamanya imam, maka dia akan diberikan dua pembebasan, dibebaskan dari api neraka dan dibebaskan dari sifat nifak.

Sistem, aturan, atasan, pekerjaan, keluarga semua berada dalam kuasa Allah swt. Lantas kenapa kita harus lebih mementingkan orang-orang yang berada dalam kuasa Allah, sementara pemilik kekuasaan kita lalaikan?

Emangnya kita digaji berapa? Sehingga kita melalaikan panggilan Allah.
  • Apalah artinya kita dibandingkan dengan sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan sahabat-sahabat Rasulullah lainnya. Mereka spontanitas meninggalkan perniagaan mereka untuk memenuhi panggilan Allah. Mereka dijamin masuk surga, kita? Bukan sahabat, dan tidak ada yg jamin masuk surga. Tetapi masih melalaikan panggilan Allah.
  • Apalah artinya kita dibandingkan dengan raja Salman. Meninggalkan tamu kenegaraannya presiden Amerika Barak Obama, hanya untuk menunaikan panggilan Allah.

berdoaAda kekhawatiran, kita termasuk orang yang dibenci Allah, orang miskin/tidak punya apa-apa tapi dengan sombongnya melalaikan panggilan Allah.

Kalau mereka sombong, masih dalam batas kewajaran, karena ada yg disombongkan. Mereka punya harta, kekuasaan, wajah yg tampan, cantik. Sementara kita orang yang serba kekurangan, tapi berani melalaikan panggilan Allah.

Gajimu seumur hidup tidak akan pernah sanggup menebus murkanya Allah swt.

Tetap semangat!
  1. Bekerjalah karena Allah, niscaya dunia akan engkau raih
  2. Utamakan panggilan Allah, maka Allah akan mengutamakan urusanmu
  3. Syukurilah apa yang ada, karena yang belum ada sering dirisaukan.

 

Ma’akumun Najah

 

Oleh : Syarif Hidayat, S.Pd. – Guru Al Quran, SMP Islam Al Ikhlas

Sharing is Caring:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published.