Dilema Kurikulum Indonesia yang “menghapus” Pelajaran TI (Teknologi Informasi) di Sekolah, Mengapa?

dilema kurikulum indonesia

Membahas isu lama namun masih segar di telinga bagi kaum pendidik maupun terdidik terkait perkembangan zaman dalam teknologi informasi maupun komunikasi. Perkembangan yang dimaksud ini adalah bahwa adanya fenomena anak-anak pada zaman sekarang sudah lebih canggih jika berinteraksi langsung dengan teknologi. Tidak dapat dipungkiri dengan adanya smartphone, muncul pula situasi ‘mahir teknologi’ yang telah dianut oleh sebagian pengguna smartphone yang di antaranya anak-anak itu sendiri. Untuk itu, mari kita bahas sedikit penjelasan dari adanya perubahan kurikulum pendidikan dengan ditiadakannya pelajaran TI.

Tentu kamu sudah tahu bahwa sekolah-sekolah di Indonesia tidak lagi menawarkan kurikulum TI (informasi dan komunikasi). Langkah ini telah memicu kemarahan di kalangan orang Indonesia yang percaya bahwa kementerian pendidikan dan kebudayaan membuat kesalahan besar dengan “menghapus” subjek dari kurikulum baru. Sekarang pemerintah ingin mengubah kurikulum baru sesegera mungkin dan menghidupkan kembali pelajaran di sekolah-sekolah di Indonesia.

Sementara TI tidak lagi menjadi subjek individu, pemerintah mendorong sekolah untuk melakukan proses pendidikan di dalam lingkungan TI, yang berarti membiarkan siswa menggunakan komputer dan melakukan penelitian online di dalam kelas.

Sebagian besar kurikulum TI kehilangan relevansinya – pada tahun 2013, program tersebut belum diperbarui dalam tujuh tahun. Kembali pada tahun 2006 siswa tidak mengenal komputer, dan yang menjadi tujuan dari kurikulum sebelumnya adalah untuk mengajarkan siswa bagaimana cara menyalakan komputer, menggunakan Microsoft Office, dan memahami alat desain grafis dasar.

Sekarang sebagian besar siswa sudah tahu bagaimana menggunakan aplikasi internet dan perangkat lunak, mungkin hal itulah yang membuat kurikulum TI menjadi tidak perlu. Pemerintah bisa saja menetapkannya dengan memindahkan studi yang tidak relevan ke topik lain, sambil memperbarui program TI yang ada.

Atau, alih-alih belajar hanya untuk menggunakan Microsoft Powerpoint, siswa dapat belajar bagaimana membuat slide presentasi yang menarik untuk menyampaikan gagasan mereka. Siswa juga bisa mempraktikkan penerbitan posting blog atau membuat media digital. Tujuannya adalah untuk membentuk siswa menjadi produsen, bukan sekadar konsumen. Ini akan mengharuskan siswa untuk mengembangkan keahlian khusus. (TN)

Sharing is Caring:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published.