Karena dengan Bantuan Teknologi, Kesetaraan dalam Pendidikan Tidak Akan Menjadi Misi Mustahil Lagi

edtech2It was such a good quotes from a simple title isn’t it? Yap, Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari ribuan pulau yang terpisah, sehingga membuktikan bahwa dasar untuk kualitas sistem pendidikan yang ada akan selalu menjadi tantangan, khususnya di negara berkembang di mana masalah infrastruktur utama belum terselesaikan. Untuk itu salah satu cara penanggulangannya adalah dengan menggabungkan teknologi dan pendidikan secara bersamaan. Kali ini kita akan membahas salah satu EdTech StartUp yang sedang menaikkan track investasinya demi kelangsungan kemajuan pendidikan di Indonesia. Well, check this out fellas!

Brainly EdTech Startup mempunyai tujuan untuk memecahkan masalah dan memberantas kesenjangan pendidikan yang sempit di seluruh negeri. “Brainly akan menjadi kelas raksasa bagi semua siswa yang bersedia untuk belajar, berbagi dan menimba ilmu,” kata Country Manager Indonesia, Dimas Mukhlas Widiantoro. Brainly adalah jaringan sosial bagi siswa, di mana siapa pun, di mana saja di dunia, mereka dapat menggunakan Brainly untuk semua urusan dalam ranah pendidikan.

Awal bulan ini, Brainly mengumumkan Seri $ 9 juta Investasi yang berbasis di Amerika Serikat, General Catalyst Mitra AS. Pada 2012, pengusaha Eropa Michal Borkowski Tomasz Kraus, dan Lukasz Haluch mendirikan Brainly dengan US $ 500.000 dari Point Sembilan Capital yang berbasis di Berlin. Para kelompok investor ini mempunyai misi untuk menjadi ‘malaikat’ dalam mendorong siswa belajar dan mengeksplorasi pendidikan kolaboratif. Menurut Manager Brainly di Indonesia, Brainly telah melihat cukup traksi di seluruh dunia untuk mengepakkan sayapnya secara kuat ke pasar negara berkembang di Asia seperti Indonesia.

Biarpun sudah ada beberapa Startups baik di sektor pendidikan di Indonesia, termasuk Zenius, Ruangguru, Tutor, Sibejoo, Harukaedu, dan INI Budi. Namun, tidak ada yang menjadi pesaing langsung bagi Brainly sejauh ini. Karena Brainly mempunyai pembeda, perbedaannya adalah bahwa Brainly menawarkan semua layanan untuk peer-to-peer secara gratis dan fitur gamification. Secara global, Brainly memiliki 30 juta pengguna bulanan yang unik. Menurut Widiantoro, basis pengguna terbesar dari situs ini berada di negara-negara berbahasa Rusia, termasuk Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, dan Rusia. Kelompok terintegrasi terbesar ini menjadi urutan pertama yang setelahnya adalah pengguna Brainly yang berada di Negara Asia yaitu Indonesia.

Dari enam juta pengguna Brainly di Indonesia, Widiantoro mengatakan sekitar 650.000 dari mereka yang aktif bulanan, yang berarti bahwa mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan di situs, memantau kualitas konten, atau melaporkan spam. Kebanyakan pengguna Brainly mayoritas adalah yang mengakses situs melalui perangkat mobile. 56 persen dari seluruh basis pengguna Indonesia Brainly menggunakan platform melalui smartphone atau tablet. Dengan adanya fenomena seperti ini menjadikan pekerjaan yang akan dijalani oleh pendiri Brainly jauh lebih terfokus pada peningkatan basis pengguna.

Karena kita sendiri yang harus yakin bahwa kualitas pendidikan di Indonesia bisa segera menyamakan kedudukan dengan Negara pesaing lainnya — yang berarti bahwa bahkan tempat-tempat terpencil seperti pulau utara Sabang Merauke di Provinsi Papua atau timur, tingkat siswa terdidik dapat dibandingkan dengan orang-orang dari Jakarta atau Surabaya. (TN)

Sharing is Caring:
error

Leave a Reply

Your email address will not be published.